Oleh: manarfa | 23 Desember 2009

SEKULARISASI SEBAGAIKRISIS PERADABAN

Sekularisasi Mematikan Kehidupan
Submitted by michaeljubel on Sunday, 17 August 2008
No Comment
Harian Republika pernah memuat pernyataan Azyumardi Azra bahwa sekularisasi tidak akan mematikan agama. “Sekularisasi tidak membuat agama mengalami kematian tetapi sebaliknya mendapat momentum baru yang sering disebut sebagai kebangkitan agama,” demikian kata Azra seperti dikutip Republika (20/08/07).
Pernyataan mantan rektor UIN Jakarta itu sangat menarik dan perlu ditanggapi. Di satu sisi ia terkesan memberikan justifikasi bagi pengusung sekularisasi untuk terus menggulingkan ide tersebut. Di sisi lain, maksud pernyataan tersebut seolah-olah ingin meredakan kegusaran kaum agamawan akan bahaya sekularisasi.
Hemat penulis, agama boleh jadi tidak mati akibat sekularisasi, namun kehidupan beragama akan sekarat karena peran agama dipersempit atau dicabut dari wilayah publik. Agama bagi kehidupan laksana ruh bagi jasad. Agama berfungsi menuntun jalannya kehidupan individu maupun masyarakat ke arah yang benar selama ia belum terkontaminasi oleh nafsu.
Harvey Cox dalam bukunya, The Secular City, menyimpulkan bahwa sekularisasi tidak bisa lagi dibendung, sehingga setiap orang, mau tidak mau, harus mencintainya, kalau tidak ingin tersingkir dari pentas kehidupan. Dalam konteks Barat, kampanye sekularisasi bisa dipahami dan merupakan proses yang wajar. Hal ini karena, ajaran murni agama sudah bercampur aduk dengan intervensi gereja yang telah memanipulasi dan mempolitisasi agama untuk kepentingan pribadi sebagaimana yang digambarkan oleh Philip Schaff dalam bukunya History of the Christian Church. Sehingga yang tampak oleh pengikut Kristen adalah ajaran yang sudah direvisi oleh pihak gejreja yang sarat dengan kepentingan pribadi. Sedang ajaran murni agama, disembunyikan di ‘belakang’ gereja. Akibatnya, umat Kristiani meninggalkann gereja karena ajaran-ajarannya sudah tidak membumi lagi. Dibunuhnya para ilmuan Barat oleh pihak gereja karena penemuan mereka dianggap bertentangan dengan kitab suci, semakin menjauhkan masyarakat dari gereja.
Pelecehan terhadap teks-teks suci agama oleh pihak gereja sebenarnya tidak terjadi pada awal abad ke-16 yang memicu gerakan reformasi protestan pada saat itu, tetapi pada jauh hari sebelumnya. Pascakenabian Isa AS, sudah terjadi bahkan tidak hanya di kalangan Kristen, di kalangan Yahudipun demikian. Hal ini disinyalir dalam Alquran Surat Ali Imran ayat 187. Selama agama ditutupi kemurniannya, dilecehkan teks-teksnya dan ditukar dengan kepentingan pribadi, selama itu pula semakin banyak yang meninggalkan gereja (agama). Sehingga agama di Barat mengerucut menjadi fudiesme dan eupraxophy, dalam artian, asalkan percaya bahwa Tuhan itu ada, tanpa harus menganut agama tertentu, sudah dianggap beragama. Suatu kepercayaan yang amat naif, percaya dengan adanya Tuhan, tapi ajaran-ajaran-Nya dinafikan dan ditukar dengan kepentingan pribadi.
Itulah gambaran tentang agama (Kristen maupun Yahudi) di Barat. Agama sudah tidak lagi cantik dan memikat hati, ia sudah menjadi tua renta dan tidak menarik, sehingga ia ditinggalkan oleh para pengikutnya dan mereka memilih ’selingkuh’ dengan ‘agama- agama’ baru yang lebih cantik dan menarik. Dalam konteks keislaman, apakah Islam akan mengalami hal yang serupa dengan agama di Barat? Bagaimana hubungan Islam dengan ilmu pengetahuan dan kemajuan? Sebelum menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita mengetahui pandangan Islam tentang agama.
Tak bisa lepas
Dalam pandangan Islam, keberagamaan dalam artian pengakuan adanya Tuhan adalah fitrah, ia sudah melekat dalam diri manusia saat penciptaan manusia itu sendiri. Ini berarti manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama. Memang manusia dapat menangguhkannya sekian lama, boleh jadi sampai menjelang kematiannya. Tetapi pada akhirnya, sebelum ruh meninggalkan jasad, ia akan merasakan kebutuhan itu.
Bukankah Fir’uan moyangnya Atheis, ia tidak hanya menafikan keberadaan Tuhan, bahkan lebih dari itu, ia memproklamasikan dirinya sebagi Tuhan. Tetapi pada detik-detik terakhir sebelum ia tenggelam, ia berkata, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS Yunus: 90).
Selanjutnya, agama adalah petunjuk Allah yang pamungkas, yang datang setelah insting dan akal. Oleh karenya, tidak akan pernah ada kontradiski antara akal dan agama (wahyu). Wahyu datang melengkapi keterbatasan-keterbatasan akal. Akal manusia, bahkan manusia seagung Nabi Ibrahim pun hanya sampai pada kesimpulan bahwa di sana ada Tuhan Yang Maha Agung, yang patut disembah. Tuhan bukan bintang yang datang kemudian sirna. Tuhan juga bukan matahari apalagi bulan yang lebih kecil dari matahari, karena Tuhan tidak mungkin terbit dan terbenam.
Sampai di situ perjalanan akal berakhir, datanglah peran wahyu yang menjawab berbagai pertanyaan tentang Tuhan yang akal tidak akan mampu menjawabnya. Sebagai sebuah pandangan hidup (worldview), Islam tidak hanya mengatur sisi interaksi manusia dengan Allah SWT, tapi ia menyerambah ke setiap sudut kehidupan manusia. Ia bagaikan kepingan uang logam yang tidak bisa dipisahkan kedua matanya.

Dalam menyikapi kehidupan dunia ini, sikap Islam sangat bijak dengan menyatakan bahwa tujuan utama manusia adalah akhirat, kendati demikian ia tidak boleh lalai dan menyepelehkan urusan dunianya. Oleh karenanya, dunia hendaknya ladang untuk berkarya dalam kerangka ibadah dengan cakupannya yang luas. Demikian halnya hubungan Islam dengan ilmu pengetahuan. Bertebaran ayat Alquran yang menyeru manusia untuk tafakkur dan tadabbur ayat-ayat Allah. Di saat yang sama, Alquran juga mengecam mereka yang menanggalkan akalnya.
Tetap perlu diwaspadai
Jadi, dikotomi antara agama dan negara itu sama dengan menganggap agama tidak mempunyai ruang dalam kehidupan bernegara, padahal ketika berbicara tentang negara, terhimpun di dalamnya kumpulan individu-individu, baik pemimpin maupun yang dipimpin. Sedangkan agama (Islam) datang tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dan Tuhannya, tetapi juga mengatur antarasesama manusia.
Pertanyaan yang mendasar setelah itu, jika agama (Islam) sudah mempersiapkan sistem yang mengatur hubungan antarsesama individu kemudian negara tidak mengindahkannya, siapa yang dirugikan? Tentunya negara itu sendiri dan individu-individu yang didalamnya. Sebaliknya, jika negara mau menerapkan sistem yang ditawarkan agama dalam mengatur hubungan sesama individu, siapa yang diuntungkan? Tentunya negara dan individu-individunya juga.
Kembali ke pernyataan Azra yang menyatakan sekularisasi tidak akan mematikan agama, sebagai sebuah ancaman, jelas sekularisasi merongrong peran agama dalam mengatur kehidupan beragama. Sekularisasi ibarat kekuatan Fir’aun yang akan menghancurkan dakwah Nabi Musa AS. Kendati pada akhirnya Fir’aun tidak berdaya dan tenggelam, tetapi sebagai sebuah ancaman, sekularisasi, tetap harus diwaspadai.

Ikhtisar
– Sekularisasi memang tidak mematikan agama, tapi membuat kehidupan beragama menjadi sekarat.
– Di Barat, sekularisasi muncul karena ajaran agama yang murni disembunyikan dan diganti ajaran agama yang dicampur kepentingan gereja.
– Jika diterapkan untuk konteks Islam, sekularisasi sangatlah tidak masuk akal, karena Islam mengajari manusia dalam berhubungan dengan Tuhan dan dengan sesama manusia.
– Bagi Islam, sekularisasi akan merongrong peran agama dalam mengatur kehidupan beragama.
Oleh : Zahrul Fata
Kandidat Doktor, Department of Quran and Sunnah Studies, International Islamic University Malaysia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: